fisik sehat, fikir sehat AyuUtami.Com - Situs resmi Ayu Utami untuk fisik sehat, fikir sehat http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=frontpage Mon, 06 Sep 2010 18:02:11 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management id-id Rumah Hijau Ayu http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=55:rumah-hijau-ayu&catid=31:tentang-ayu&Itemid=46  

Ada dua cara untuk go-green. Cara mahal atau cara murah. Ayu memilih cara murah. Ia tak punya uang untuk memasang panel surya atau membikin kebun di atap rumah.

]]>
frontpage Wed, 12 Nov 2008 12:55:08 +0000
Novel Terbaru Ayu: Manjali dan Cakrabirawa http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=114:novel-terbaru-ayu-manjali-dan-cakrabirawa&catid=1:kabar-terkini&Itemid=30  

Telah terbit novel terbaru Ayu Utami, Manjali dan Cakrabirawa. Bercerita tentang Marja, seorang gadis Jakarta, yang dititipkan berlibur oleh kekasihnya pada sahabat mereka, Parang Jati. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa dan candi-candi. Perlahan tapi pasti, Marja jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa.

Manjali dan Cakrabirawa adalah yang pertama dari Roman Misteri - Seri Bilangan Fu, serial yang berhubungan dengan novel Bilangan Fu. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka-teki. Teka-teki itu berhubungan dengan sejarah dan budaya Nusantara, sehingga novel ringan ini membawa pembacanya mengenal kembali khazanah tersebut.

Candi Belahan adalah salah satu tempat yang dikunjungi Marja dan Parang Jati dalam Manjali dan Cakrabirawa. Candi petirtaan ini terletak di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, dan dipercaya dibangun oleh, atau untuk, raja Airlangga (abad ke-11 Masehi). Peninggalan ini dikenal juga dengan nama Sumber Tetek--mengacu pada patung yang mengucurkan air dari payudaranya.

 

]]>
frontpage Sun, 11 Jul 2010 11:30:33 +0000
Jin Plagiat http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=113:jin-plagiat&catid=25:kodok-ngorek&Itemid=29 Siapa yang lebih plagiat: guru besar yang mencontek tulisan orang, atau jin yang "mencontek" wajah tuannya untuk meniduri murid tuan kiai?
Tidak percaya? Percaya tak percaya, kedua berita itu muncul di media massa pekan-pekan belakang. Sama-sama terjadi di dunia pendidikan. Yang pertama adalah kisah mengenai seorang santri perempuan dari sebuah pesantren di Tangerang. Setelah gadis itu mengeluh tak enak badan, orangtuanya mendapati anaknya hamil beberapa bulan. Berceritalah si gadis bahwa pemimpin sekolahnya pernah melamar. Bukan sang kiai yang hendak menikahinya. Tapi--hm, percaya tidak percaya--jin "milik" sang kiai tertarik pada santri  itu. Si kiai hanya melamarkan.
Si gadis menolak. Apakah dia takut, atau setidaknya heran, entahlah. Barangkali jin-jin demikian dianggap biasa saja. Siapa tahu. Hanya saja, tahu-tahu dia hamil.

]]>
frontpage Sun, 28 Feb 2010 11:31:56 +0000
Siapa penemu kata "rebonding"? http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=112:siapa-penemu-kata-qrebondingq&catid=25:kodok-ngorek&Itemid=29 Ketika sekelompok ulama di Jawa Timur mengharamkan rebonding rambut, banyak pertanyaan yang muncul atau bisa muncul. Misalnya, apakah mereka juga mengharamkan keriting rambut? Kalau tidak, kenapa? Kok rambut lurus dianggap terlarang sedangkan rambut keriting tidak? Kan sama-sama buatan? Selain itu, siapa yang membikin-bikin kata itu sebab kita tidak bisa menemukannya di kamus?'

]]>
frontpage Mon, 15 Feb 2010 02:32:44 +0000
Ayuutami.com akan mengubah tampilan http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=111:ayuutamicom-akan-mengubah-tampilan&catid=1:kabar-terkini&Itemid=30 frontpage Thu, 11 Feb 2010 06:42:20 +0000 Semar Pernah Jadi Ratu http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=110:semar-pernah-jadi-ratu&catid=25:kodok-ngorek&Itemid=29 Saya melihat Semar pada Gus Dur. Itu bukan rahasia. Banyak orang melihat Semar pada Gus Dur.
Dan saya melihat itu lagi ketika menonton High Noon in Jakarta, dokumenter arahan sutradara Curtis Levy, yang diputar untuk mengenang beliau yang dikebumikan menjelang pergantian tahun.
Papan kayu Semar seperti penanda angin berlatar tugu Monas. Kodok hijau lucu penghias kebun Istana Merdeka. Sutradara mengawali film dengan citra-citra yang membangun humor.
Di dalam satu ruang istana terjadi kesibukan. Seorang tukang jahit mengukur badan atas sang presiden. Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelbagai kemeja resmi dipaskan. Batik, tenun, ikat. Kemudian, kamera menyorot ke bawah. Tampaklah presiden kita hanya mengenakan celana pendek. Kakinya kurus dibanding bobot tubuh atasnya. Ia tampak sesantai kanak-kanak. Ia tampak tak peduli pada segala formalitas yang biasanya menjadi aroma istana. Ia mengingatkan kita pada Semar.
Lalu, lihatlah, ia tenggelam dalam meja kerjanya di ruang istana yang besar. Seperti kodok yang berendam. Ia juga menerima tamu dari negeri tetangga sambil tetap mengenakan celana pendek dan sandal.
Setiap pagi, setelah waktu solat subuh, ia digandeng dua pengawal di kanan kiri. Diikuti selusin lagi pengawal. Tetap dengan celana pendek rakyat sehari-hari, ia  melakukan senam pagi sederhana, sesuai dengan kemampuan fisiknya yang tak lagi istimewa. Lantas, karena sang presiden mengenakan baju demikian, begitu pula para pengawalnya. Mereka semua memakai kaos rumahan dan celana pendek yang menampakkan kaki-kaki yang mulai tampak kurus dibanding perut yang mulai berisi. Mereka berjalan megal-megol. Tak bisa tidak, rombongan itu mengingatkan saya pada punakawan.

]]>
frontpage Thu, 11 Feb 2010 06:24:14 +0000
Agenda: Klinik Penulisan Catatan Perjalanan http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=109:agenda-klinik-penulisan-catatan-perjalanan&catid=1:kabar-terkini&Itemid=30 Klinik penulisan ayuutami.com bekerja sama dengan Komunitas Pangrango mengadakan latihan dan sharing penulisan. Ayu akan membahas tulisan yang dikirim ke ayuutami.com untuk acara ini. Yang dibahas terutama catatan perjalanan. Acara santai ini diadakan di Kafe Bengawan Solo, SPBU Pejompongan, Jakarta, pada Sabtu, 14 Maret 2009, pukul 14.00 sd 16.00.

]]>
frontpage Fri, 13 Mar 2009 17:12:52 +0000
Diskusi Bilangan Fu di Unika Soegijapranata Semarang http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=108:diskusi-bilangan-fu-di-unika-soegijapranata-semarang&catid=1:kabar-terkini&Itemid=30 "Seks, Sastra, dan Spiritualitas" adalah judul diskusi novel Bilangan Fu di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Rabu 4 Maret 2009. Pembicaranya, Ayu Utami dan Angelika Riyandari, dimoderatori oleh Donny Danardono. Apa hubungan seks, sastra, dan spiritualitas?

Ambiguitas
Ike atau Angelika Riyandari, dosen fakultas sastra di sana, menekankan ambiguitas feminin dan maskulin yang muncul berkali-kali dalam Bilangan Fu. Ambiguitas ini agaknya bagian dari upaya dekonstruksi atas bias jender. Ambiguitas, misalnya, muncul dalam sosok magis Nyai Rara Kidul, yang dalam Babad Tanah Jawi diceritakan juga memiliki penjelmaan maskulin sebagai pertapa bernama Ki Ajar Cemara. Ambiguitas feminin-maskulin juga terdapat pada beberapa karakter lain, bahkan dalam kehidupan hewan, seperti lebah dan ikan pelus. Selain itu, novel ini juga mendekonstruksi pengertian heteroseksual vs homoseksual dalam hubungan antara dua tokoh utama pria, Parang Jati dan Sandi Yuda. "Parang Jati dan Sandi Yuda memiliki hubungan yang sangat intim, bahkan mengarah pada homoerotis, tetapi saya tidak bisa mengatakannya homoseksual," kata Ike.

]]>
frontpage Fri, 13 Mar 2009 16:41:25 +0000
Surat dan Curhat http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=101:jawaban-klinik-penulisan-ayuutamicom&catid=28:tips-menulis&Itemid=18 (Jawaban umum untuk surat-surat yang masuk ke Klinik Penulisan Ayuutami.com dari 21 Nov 2008 hingga 13 Jan 2009)

Salam,
Maaf kalian harus menunggu lama untuk jawaban ini. Ayuutami.com masih mengalami persoalan teknis dan mencoba terus memperbaikinya.

Kebanyakan tulisan yang masuk ke klinik masih berbentuk curhat, atau surat. Ada sedikit yang sudah merupakan cerpen dan opini. (Oh ya, untuk yang tak begitu menguasai bahasa Indonesia kontemporer, "cerpen" singkatan dari cerita pendek, "curhat" curah hati.)
Apa persoalannya?
Surat atau curhat adalah salah satu bentuk tulisan juga. Sifatnya cenderung pribadi. (Malah, meleset-meleset, bisa jadi narsis ;) ) Karena sifatnya pribadi, apalagi ngomongin-diri-sendiri, kita harus yakin bahwa pembacanya tertarik pada kita. Kalau pembaca tidak tertarik pada kita dan persoalan pribadi kita, kenapa juga mereka buang-buang waktu untuk baca kita punya tulisan?
Nah, karena itu media umum jarang pakai bentuk surat dan curhat. Kecuali untuk rubrik Surat Pembaca, yang tak boleh lebih dari seribu karakter.

Bagaimana agar curhat dan surat jadi menarik?
Agar menarik, cari topik yang menarik orang banyak. Ingat, diri kita belum tentu menarik bagi orang lain, sebab kita bukan Cinta Laura. Karena kita juga bukan Sandra Dewi, maka topik tulisan harus menarik bagi orang lain.

Kesimpulan: Surat, curhat, cerpen, ataupun opini harus bisa menarik bagi orang.

TIPS:  LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMBUAT ORANG TERTARIK

]]>
frontpage Tue, 13 Jan 2009 03:55:30 +0000
Ayu Utami Raih Khatulistiwa Award http://ayuutami.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76:ayu-utami-raih-khatulistiwa-award&catid=1:kabar-terkini&Itemid=30 Novelis Ayu Utami meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 kategori prosa lewat novel terbarunya, Bilangan Fu. Karya terbaru penulis perempuan, yang sebelumnya menerbitkan novel Saman dan Larung, ini dianggap turut mengembangkan kehidupan sastra di Tanah Air dengan basis penelitian yang kuat.

Penghargaan Khatulistiwa untuk kategori puisi diberikan kepada Nirwan Dewanto dengan antologi puisinya, Jantung Lebah Ratu. Wa Ode Wulan Ratna memperoleh penghargaan untuk kategori Penulis Muda Berbakat.

Dewan juri tahap akhir terdiri dari Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Remy Silado, dan Linda Christanty.

]]>
frontpage Sat, 15 Nov 2008 08:47:22 +0000