
Almarhum pejuang hak asasi manusia Munir pernah mengikuti sholat Jumat di sebuah mesjid. Kok ya kebetulan khatibnya, entah memang tidak suka pada ide hak asasi manusia, atau memang satu frekuensi dengan militer, mencerca dia. Tentu tak sadar ia bahwa Munir ada di antara jamaah. "Munir itu Yahudi!" seru khatib dalam khotbah.
Saya terkenang cerita kecil almarhum ini sebab di pergantian tahun kita ditampar oleh dua berita. Pertama, penyerangan Israel terhadap Palestina (sejak 27 Desember 2008). Kedua, divonisbebasnya Muchdi Pr dari dakwaan terlibat dalam pembunuhan Munir (31 Desember 2008).
Mengutuk serangan Israel adalah tak layak diberdebatkan lagi. Tak ada yang dapat dibenarkan dari agresi yang mengambil ratusan korban tewas dan ribuan yang luka dari kalangan sipil. Sekali lagi, tak ada alasan untuk tidak mengutuk serangan Israel.
Tapi, kebencian terhadap Yahudi adalah hal yang menarik untuk diamati. Kebencian itu telah mengangkat bentuknya sendiri. Sampai-sampai, orang bisa menyamakan Munir dengan "Yahudi".
Sejak kapan kebencian terhadap Yahudi muncul di Indonesia?
Sejak 1948? Ketika bangsa itu berbondong-bondong pindah dari Eropa dan merebut tanah Palestina?
Kampanye anti-Yahudi ternyata sudah ada di Indonesia lebih awal dari terbentuknya Israel. Kampanye anti Yahudi telah ada sebelum 1948!
Siapa yang melakukannya? Bukan para pembela Palestina (sebab Palestina belum direbut Israel ketika itu). Yang melakukannya adalah pemerintah miiter Jepang!
Di zaman Jepang telah beredar kampanye anti Yahudi, yang sezaman dengan propaganda Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! (yang terakhir masih terus jadi jargon Sukarno di Era Demokrasi Terpimpin).
"Bahaja Jahoedi harus dibanteras. Pidato Tokko Katjo Kenpeitai toean Moerase." Demikian judul berita Asia Raya, 5 April 1943.
Kita dipoelau Djawa sekarang tidak sadja berperang dengan kekoeatan alat senjata, tapi djoega berperang dengan pikiran. Seperti semoea orang mengetahoeinya segala sisa-sisa Amerika-Inggeris yang ada dinegeri ini haroes disapoe bersih. Dibelakang Amerika-Inggeris berdiri semangat Jahoedi yang sebenarnya, oleh karena itu kewadjiban kita ialah menghapoeskan segala pengaroeh dan semangat Jahoedi itu.
Tak ada urusan agama di sini. Satu-satunya kepentingan Jepang adalah karena ia bersekutu dengan Jerman di bawah Hitler yang melawan Amerika dan mengirim Yahudi ke kamp konsentrasi. Tapi, betapa miripnya rumusan Jepang dengan rumusan anti Yahudi yang sekarang.
Sekali lagi, saya berduka atas penyerangan Israel atas Palestina. Saya berduka atas majelis hakim yang tuli atas suara aneh pencabutan BAP ramai-ramai dalam kasus pembunuhan Munir sehingga Muchdi bisa divonis bebas. Dan meskipun sebagian pengacara Muchdi adalah juga pengacara pelaku bom Bali ataupun Habib Rizieq, marilah kita jangan terjebak dalam kaca mata Huntington yang memberi fokus bagi yang suka perang.









