Kasus Depok
Pemerintah kota Depok itu lucu sekali! Sambil menunggu bilbor di persilangan jalan disewa, mereka memasang iklan sendiri. Iklan "jati diri".
Kembalikan jati diri bangsa, katanya. Dengan apa? Dengan makan memakai tangan kanan! Kembalikan jati diri bangsa dengan makan memakai tangan kanan.
Saya pingin ketawa, tapi saya harus menggagalkan tawa itu karena tiga alasan. Satu. Lelucon ini politically incorrect. Bagaimana dengan mereka yang tak punya tangan? Dua. Bagaimana dengan yang kidal? Orang kidal memang lahir dengan tangan kiri lebih trampil dari tangan kanan. Tiga. Bagaimana jika ternyata itu bukan lelucon?
Yang terakhir yang paling serius. Bagaimana jika pemerintah Depok memang yakin bahwa jati diri bangsa ditunjukkan dengan makan pakai tangan kanan? Seperti yang digambarkan di papan iklan itu: tua muda, birokrat sampai paskibra, semua makan dengan tangan kanan. Walikota mengacungkan tangan kanan. Meski dengan wajah lucu, jangan-jangan ia tidak bermaksud melucu.
Masalahnya, kok bisa jati diri ditafsirkan sesempit itu?
Jati diri mestinya bukan mengenai persoalan sepele. Makan dengan tangan kanan atau kiri adalah perkara teknis. Apa yang dimaksud makan dengan tangan kanan atau kiri, sementara sesungguhnya kita menggunakan kedua tangan? Yang satu memegang sendok atau pisau. Yang satu lagi memegang garpu. Apakah ini hanya persoalan mana tangan yang memasukkan makanan ke mulut? Jika ya, ini perkara teknis sekali.
Soal mana tangan yang memasukkan makanan ke dalam mulut, itu juga berkenaan dengan piranti makan yang dipakai. Jika kita makan dengan sendok dan garpu, memang lebih mudah memasukkan makanan dengan sendok ke mulut kita. Tapi, jika kita makan dengan garpu dan pisau? Sungguh berbahaya memasukkan pisau--apalagi pisau daging yang tajam--ke mulut! Jadi, bahkan bagi orang yang tidak kidal, piranti garpu-pisau menganjurkan agar orang "makan dengan tangan kiri".
Jadi, kalau mau konsisten, iklan penguasa Depok itu hanya berlaku bagi: 1) manusia yang punya tangan kanan. 2) tidak mengizinkan alat makan garpu-pisau yang biasa dipakai dalam tradisi Barat. Itu secara teknis.
Secara esensial? Iklan ini wujud dari sikap cetek yang menafsirkan jati diri bangsa dalam hal-hal permukaan yang bukannya memperkaya malah mempermiskin pengalaman budaya kita.
Kasus Betawi
Siapakah sesungguhnya orang Betawi asli? Iklan-iklan kampanye politik di tepian jalan mendaku demikian: si Fulan, si Mamat, si Anu adalah tokoh Betawi asli. Ada yang wajahnya kearaban, ada yang tampak melayu, ada yang kelihatan kampungan. Apa itu Betawi asli?
"Betawi adalah hibrida," kata teman saya, seorang anak Betawi yang punya nenek moyang Arab. "Betawi adalah campuran," kata yang lain, yang tampaknya mirip Tionghoa. Tapi, barangkali kedua teman itu mewakili kaum Betawi moderat, alias "Betawi asyik".
Di pihak lain, ada yang mempolitisir terbentuknya kaum Betawi fundamentalis alias "Betawi kagak asyik". Yaitu, mereka yang percaya bahwa ada jati diri Betawi yang asli, murni. Seperti dipolitisir iklan kampanye politik.
Banyak buku telah menceritakan bahwa apa yang kemudian menjadi "orang Betawi" adalah percampuran dari pelbagai suku di balik tembok kota Batavia. Mereka termasuk para budak yang dibawa dari Bali, Bugis, Makasar, Jawa, orang merdeka setempat yang dekat dengan kebudayaan Sunda maupun pendatang, pedagang Tionghoa maupun Arab. Ya, segala bangsa yang tinggal di kosmopolitan Batavia.
Dan Batavia? Nama yang menjadi asal kata Betawi itu sendiri datang dari Belanda!
Alkisah, setelah mendirikan kota benteng ini, Jan Pieterzoon Coen hendak menamainya Nieuw Hoorn. Sebab kota kelahirannya di Belanda adalah Hoorn. Tapi parlemen kota menolaknya. Nama itu terlalu menekankan pribadi Coen. Orang-orang Belanda pendiri kota itu akhirnya menamainya Batavia. Untuk mengenang kaum Batavier; yaitu bangsa kuno yang dipercaya menjadi nenek moyang orang Belanda.
Nah lo? Bagaimana mau mengklaim orang "Betawi asli" jika namanya saja berasal dari nenek moyang orang Belanda?
Kita kembali saja ke teman-teman saya kaum "Betawi asyik". Mereka percaya bahwa yang tulen adalah campuran!








