ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Beranda Artikel Berita Diskusi Bilangan Fu di Unika Soegijapranata Semarang

Diskusi Bilangan Fu di Unika Soegijapranata Semarang

E-mail Cetak PDF

"Seks, Sastra, dan Spiritualitas" adalah judul diskusi novel Bilangan Fu di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Rabu 4 Maret 2009. Pembicaranya, Ayu Utami dan Angelika Riyandari, dimoderatori oleh Donny Danardono. Apa hubungan seks, sastra, dan spiritualitas?

Ambiguitas
Ike atau Angelika Riyandari, dosen fakultas sastra di sana, menekankan ambiguitas feminin dan maskulin yang muncul berkali-kali dalam Bilangan Fu. Ambiguitas ini agaknya bagian dari upaya dekonstruksi atas bias jender. Ambiguitas, misalnya, muncul dalam sosok magis Nyai Rara Kidul, yang dalam Babad Tanah Jawi diceritakan juga memiliki penjelmaan maskulin sebagai pertapa bernama Ki Ajar Cemara. Ambiguitas feminin-maskulin juga terdapat pada beberapa karakter lain, bahkan dalam kehidupan hewan, seperti lebah dan ikan pelus. Selain itu, novel ini juga mendekonstruksi pengertian heteroseksual vs homoseksual dalam hubungan antara dua tokoh utama pria, Parang Jati dan Sandi Yuda. "Parang Jati dan Sandi Yuda memiliki hubungan yang sangat intim, bahkan mengarah pada homoerotis, tetapi saya tidak bisa mengatakannya homoseksual," kata Ike.

 

Misteri, teka-teki, dan rahasia
Ayu memulai presentasinya dengan mengutip dari Bilangan Fu tentang perbedaan misteri dan teka-teki. 
Ada di dunia ini hal yang merupakan teka-teki, ada yang merupakan misteri. Dan beda keduanya adalah ini: teka-teki adalah rahasia yang jawabannya tetap dan pasti. Tapi misteri adalah rahasia yang jawabnya tak pernah kita tahu adakan ia tetap dan pasti. Pada teka-teki, jawaban adalah tujuan. Pada misteri, jalan yang kita tempuh itulah yang ternyata menjadi akhir. Misteri menjelmakan suasana kepedihan dan harapan. Dan suasana itu, anehnya, indah. (hal.413)

Ambiguitas dieksplorasi Ayu sebagai bagian dari misteri. Ayu berpendapat bahwa inti dari spiritualitas adalah adanya tempat misteri. Memberi tempat bagi misteri bukan berarti menolak yang bukan misteri. Sebaliknya, orang harus menganggap misteri sebagai teka-teki dan melawannya sampai titik ia kehabisan tenaga dan percaya bahwa yang dihadapinya bukan teka-teki, melainkan memang misteri.

 

 



Pemutakhiran ( Jumat, 13 Maret 2009 23:49 )  

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_3.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 6 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41456

Kutipan Buku

Kelak, ketika tua, kita tahu kita semakin sulit tertawa. Sebab, seperti pohon, semakin menjadi tua semakin mengeras diri manusia. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Dari Rak Buku

Cindy Adams Penyambung Lidah BK

News image

...

Baca Komentar Ayu