ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Beranda Artikel Kodok Ngorek BK dan Pelacur

BK dan Pelacur

E-mail Cetak PDF

Hayo! Anda yang membaca tulisan ini karena judulnya, terutama tertarik pada apa: Bung Karno atau pelacur?
Saya menghabiskan libur Lebaran kemarin dengan menjaga orangtua, yang sedang tak berpembantu, dan membaca. Adalah kebetulan bahwa hari raya kali ini jatuh berhimpitan dengan dua tanggal, yang di masa lalu selalu dirayakan besar-besaran oleh Orde Suharto. Peringatan 30 September dan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober.

Dua dasawarsa silam, tak terbayang bahwa kedua hari tersebut bisa tidak dibicarakan sama sekali. Penyembelihan pahlawan revolusi oleh para penjahat diakhiri dengan menangnya Pancasila dari komunisme--begitulah peristiwa ini dulu dimengerti anak-anak--adalah legitimasi pemerintahan Suharto. Serta titik balik pemerintahan Sukarno.

Karena itu, iseng-iseng saya membaca ulang masa-masa yang tak begitu ditonjolkan dalam pelajaran sekolah. Salah satunya adalah biografi "klasik" Bung Karno, karya Cindy Adams. Ehm, konon cewek ini pantas dicurigai sebagai kaki tangan CIA. Setelah menulis biografi Sukarno, ia berangkat untuk menulis biografi Shah Reza Pahlevi. Sayangnya, revolusi Iran keburu meletus. Kalau tidak, Nyonya Adams ini melahirkan dua biografi tentang dua tokoh flamboyan dunia non Barat. Sekarang, Cindy Adams hidup jetset dan menulis kolom gosip harian di koran New York. Apakah dia masih ingat Sukarno atau Indonesia? Yah... hidup orang memang boleh bercabang.

Lepas dari apakah dia agen CIA atau tidak, Cindy Adams menulis dengan sangat hidup. Barangkali juga karena BK adalah tokoh yang sangat hidup. Karena itu, sangat enak dibacalah buku ini--diterbitkan ulang dalam edisi revisi 2007.

Tiba-tiba saya merindukan pemimpin yang flamboyan dan percaya diri, seperti BK. Atau Ali Sadikin. Bukan karena flamboyan itu lebih baik, tapi karena flamboyan itu lebih hidup dan menarik. BK dan Ali Sadikin--berbeda dari Suharto dan SBY--adalah orang yang bisa bicara tentang pelacuran sebagai kenyataan manusia yang kompleks.

Setelah reformasi 1998 kita ingat bahwa bulan Ramadhan, selain identik dengan bulan penuh rakhmat, juga identik dengan penutupan tempat-tempat di mana alkohol dan pelacur suka beredar.

Selain Ali Sadikin, tak ada gubernur DKI yang berani melegalisasi pelacuran. Adalah Ali Sadikin yang melokalisasi pelacuran. Agar dengan demikian mudah dikontrol. Miisalnya, lebih mudah memaksa penggunaan kondom pada pengelola dan pekerja terdaftar dari pada germo dan perek gelap.
Dan BK? Dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, BK punya cerita-cerita lucu.

Ketika masih mahasiswa teknik di Bandung, ia telah menyelenggarakan rapat-rapat politik. Tapi, seperti zaman Suharto, Belanda memiliki aturan ketat. Nah, untuk menghindari mata-mata dan pembubaran, BK mengaku suka mengadakan rapat penting di rumah pelacuran.

Pelacur, tulis buku ini, adalah mata-mata paling baik di dunia. "Dalam keanggotaan PNI di Bandung terdapat 670 orang perempuan yangberprofesi demikian dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh. Kalau menghendaki mata-mata yang hebat, berilah aku seorang pelacur yang baik." (hal. 100)

Tentu saja BK juga bercerita tentang penolakan rekannya, Ali Sastroamijoyo.
"Memalukan," kata Ali, yang digambarkan oleh BK sebagai menganggap pelacur "sampah masyarakat". "PNI memiliki cabang-cabang di seluruh tanah air dan semuanya berjalan tanpa anggota seperti itu, hanya di Bandung kita melakukan semacam ini."
Tapi, begitulah, BK menceritakan semuanya dengan hidup dan tanpa takut dicap tidak bermoral.

Saya tidak bilan BK lebih baik daripada Suharto atau SBY. Tapi pasti ia lebih menarik.
Bercerita BK tentang sipir Belanda yang menjaga ketika ia dipenjara. Suatu kali, Belanda gemuk dungu itu datang dengan mata bengkak oleh radang. Bertanya BK, kenapa. Si sipir menjawab: kemarin ia ke pelacuran. Setelah selesai, ia mengelap miliknya dengan saputangan. Setelah pulang, ia lupa dan mengelap matanya dengan saputangan yang sama. Bengkak dan radanglah mata itu!
Kita boleh saja menganggapnya bumbu cerita. Tapi baiklah, moral ceritanya adalah ini: sudah waktunya kita membaca sejarah dengan lebih santai. Demikian, agar kita jangan gontok-gontokan terus.

4.10.8



Pemutakhiran ( Jumat, 21 November 2008 22:09 )  

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_3.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 6 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41455

Kutipan Buku

Tapi tak semua orang tabah menanggung misteri. Kebanyakan manusia adalah lemah dan suka berkuasa. Sebagian menjatuhkan misteri itu dari pundaknya ke tanah, dan menjelmalah cerita. Cerita yang indah masih mengandung jejak-jejak misteri itu. Tapi cerita yang buruk tak menyisakan lagi jejak-jejak misteri, sebab ia sepenuhnya menjelma kekuasaan. Yaitu, segala perintah dan larangan. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Dari Rak Buku

Cindy Adams Penyambung Lidah BK

News image

...

Baca Komentar Ayu