ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Larung

E-mail Cetak PDF
Article Index
Larung
Keretaku berhenti di stasiun Tulungagung
Aku bukan orang yang percaya takhayul
Inilah nenekku
Tapi mulutnya seperti ubur-ubur
Kapan ia lahir?
Semua halaman

LarungSinopsis:

Lanjutan kisah Saman. Saman telah menjadi pelarian politik di New York. Shakuntala mendapat beasiswa sebagai penari di kota besar dunia itu. Tiga wanita yang lain datang berkunjung. Diam-diam mereka membawa misi rahasia untuk menyelamatkan tiga aktivis kiri untuk melarikan diri dari tanah air.

Dalam misi rahasia itu muncul seseorang: Larung. Tokoh ini gelap dan menimbulkan keraguan. Akankah Saman berhasil menyelamatkan para aktivis mahasiswa itu?

 

 Novel Larung diterbitkan juga ke dalam bahasa Belanda (de Geus).

tahun 1985
pukul 5:12 Siapakah yang menentukan jam kematian seseorang?
Selalu ada aroma perjalanan pada rel dan subuh. Lampu sisa malam pada tembok muram dan tepi jalan. Kuning, semakin padam oleh langit yang bangkit.
Dan inilah yang terjadi setiap dini sebagaimana terjadi jam lima ini:

Ketika bau hangat matahari telah tercium di timur laut, sebelum warna terangnya terpantul pada atmosfir, burung bencé segera menghentikan tur malamnya lalu menyusup ke sebuah ceruk yang tak diketahui cahaya. Dengarlah, kita hanya menangkap sisa-sisa gema triolnya, tinggi dan jauh, lalu hilang dalam warna hitam di balik gedung dan pepohonan. Ada makhluk-makhluk, seperti kelelawar, yang tidak menyukai terang.

Tetapi burung dandang-haus tetap berkitar-kitar meski fajar akan segera menelanjangi segala yang muncul dari permukaan bumi ke dalam cahayanya yang congkak. Orang menyebut kehadirannya tanda buruk. Dan kita tahu, jika bunyinya masih terdengar, getir yang tinggi namun tidak jauh, kita tahu bahwa ia telah mencium bau kematian di dekatnya (di dekat kau dan aku, yang mendengar nyanyinya). Maka ia tidak pergi ke dalam gelap sebab ia tahu matahari tak mampu mengusir maut. Terang tidak mengalahkan kematian.

Dan inilah yang terjadi pada setiap subuh yang tak diketahui orang:

Ketika burung dandang hinggap pada nok di bubungan, dan di rumah itu seseorang mati dini hari dengan dada membiru, maka kita tahu bahwa sebelumnya telah terjadi pertempuran roh-roh malam, dan badan halusnya meninggalkan raganya untuk ikut berlaga, tetapi ia telah kalah dalam perang itu dan tak bisa kembali. Maka raga itu tetap kosong ketika pertempuran selesai dan arwah yang menang melayanglayang, pulang sebelum fajar. tetapi ia kalah dan mati dalam siat wengi. Duh, jasad yang kasat, beruntunglah mata yang masih bisa menyaksikan cahaya-cahaya roh berlesatan di bawah langit ketika pertarungan itu sedang terjadi sebab mereka yang eling akan melafalkan ayat-ayat kursi dengan khusyu pada lantai yang anyep agar jangan ada kekuatan halus menghirupnya ke dalam senyap. Ada makhluk-makhluk, seperti kelelawar, yang hidup dalam gelap dan tak menyukai terang.

Tetapi subuh adalah saat menjelang cahaya lewat dan gelap lari ke barat. Di sana ada aroma keberangkatan, aroma perhentian, dan bau asap pertama: pada subuh ada perjalanan yang tak habis-habis.



Pemutakhiran ( Selasa, 13 Januari 2009 15:37 )  

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_2.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 6 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41458

Kutipan Buku

...Para bo’im. Bogoh ka imej. Gandrung citra. Lebih daripada para ja’im, yang hanya menjaga imej, para bo’im melakukan segala hal untuk citra diri. Mereka sudah pada taraf mekanis, yaitu tak sadar bahwa mereka melakukannya untuk tujuan itu. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Artikel Terkait