ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Sidang Susila

E-mail Cetak PDF

 

Sidang Susila adalah naskah drama yang mulanya ditujukan untuk dipentaskan Butet Kertaredjasa beserta tiga aktor pembantu. Pada 2008, Butet bersama Teater Gandrik memainkan adaptasinya untuk grup besar. Buku ini memuat versi awal.

Sidang Susila adalah naskah drama komedi pertama Ayu yang merupakan kritik atas Rancangan Undang-Undang tentang Pornografi. Tapi, komedi yang paling lucu dalam buku ini barangkali adalah naskah RUU itu sendiri, yang ditulis oleh para anggota DPR.

 

PUSAR DAN ROKOK

Kera merokok dan tidak telanjang. Manusia merokok dan telanjang. Itulah amat sedikit dari banyak banyak persamaan dan perbedaan kera dan manusia.

Bangsa kera memang tidak memproduksi rokok. Tapi mereka mengkonsumsinya setelah mengenal benda itu dari manusia. Memang, mereka kurang cerdas dibanding orang putih yang mengenal pipa tembakau dari orang Indian.

Kera sirkus memakai bikin yang tak penuh menutupi payudaranya. Tapi mereka tidak telanjang. Sebab mereka berbulu. Kita tidak pernah menyebut binatang telanjang kecuali jika mereka, oleh suatu sebab, menjadi plontos.

Inilah kesalahan kita. Kita tidak berbulu, maka kita telanjang. Bahkan bulu setempat yang tumbuh di satu dua lokasi malah membuat kita tampak semakin tak senonoh.

Kini untuk pertama kalinya dalam sejarah hukum di Indonesia, tampak ambisi besar mengatur tubuh manusia dalam peraturan daerah di pelbagai wilayah: Perda yang melarang baju menampakkan pusar, maupun yang melarang merokok di tempat umum. Saya tidak merokok, sehingga demi kepentingan pribadi saya senang dengan perda larangan merokok. Tidak berarti saya setuju melarang orang lain merokok. Saya cukup puas dengan pemisahan di wilayah merokok dan tak merokok serta larangan merokok di tempat yang meniscayakan saya menghirup asap--seperti dalam antrian atau kotak ATM. 
Kerugian yang disebabkan rokok terhadap penghisap pasif terukur dengan jelas dan obyektif dan bukan berdasarkan prasangka serta selera belaka. Itu bedanya rokok dan pusar.

Tapi, kali ini saya lebih tertarik dengan persoalan mengapa kita telanjng dan binatang tidak? Mengapa kita tak berbulu--dan bulu-bulu yang ada pada kita pun membuat kita semakin malu? Ini mengingatkan saya pada pertanyaan klasik: sesungguhnya, manusia itu lahir terlalu awal sehingga kita mengembangkan otak sedemikian rupa? Ataukah sebaliknya, karena otak kita berkembang canggih maka kita tidak lagi membutuhkan bulu-bulu serta keadaan fisik lain yang ada pada hewan lain?

Sebagian pemikir, terutama yang berlatar ilmu humaniora, mengatakan bahwa manusia lahir terlalu cepat. Metafor indah. Tapi sebagian pemikir lain, terutama yang berasal dari disiplin zoologi, lebih senang mengatakan bahwa manusia sengaja lahir prematur. Sebab, ia harus mengembangkan otaknya di luar kandungan.

Kita lahir dengan kepala yang harus cukup untuk melalui tulang kelangkan dan liang garba. Karena itu, kepala kita harus cukup kecil ketika dilahirkan, untuk kemudian berkembang setelah kita berada di luar kandungan. Kelahiran dini adalah syarat pertumbuhan otak.
Bukti bahwa manusia lahir dini adalah bahwa bayi manusia begitu rentan dan bergantung pada ibunya untuk jangka waktu yang amat panjang. Bayi hewan lain dapat segera mandiri. Kerentanan dan periode panjang ini dibutuhkan bayi manusia untuk mengembangkan kapasitas dan volume otaknya. Jika ia harus menunggu sampai otaknya berkembang pada tahap ini dalam kandungan, niscaya bayi-bayi tak bisa lahir normal.

Nah! Itukah, kelahiran prematur itu, yang menyebabkan kita tidak berbulu?

Soal mengapa kita telanjang, ada banyak cerita sesungguhnya. Misalnya, bahwa dalam evolusi, sebelum menjadi manusia, bangsa kera yang keluar dari hutan menjadi monyet air lebih dulu. Selama mencari makan di air inilah mereka kehilangan bulu badannya. Ini juga yang membuat manusia begitu mudah belajar berenang dibanding monyet.

Cerita lain adalah, kita menjadi telanjang memang untuk tujuan seks. Sebab bulu-bulu menghalangi keintiman persentuhan kulit. Kita membutuhkan seks dan keintiman. Dan kita--ya, manusia--membutuhkan keintiman sebab kita membutuhkan ikatan yang lebih panjang dibanding hewan lain. Ikatan itu dibutuhkan karena anak-anak kita butuh waktu panjang untuk mengembangkan otaknya.

Bahwa kita telanjang, bahwa kita menanggalkan bulu-bulu kita, adalah kenyataan alam. Seperti pusar di perut adalah keharusan alam.

Tapi bahwa kita merokok? Dalam hal ini, hewan bisa belajr dari kita, tapi kita tidak bisa belajar dari mereka.
(dari Sidang Susila)

 

Pemutakhiran ( Kamis, 15 Januari 2009 15:47 )  

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_3.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 6 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41459

Kutipan Buku

Kebenaran itu selalu dalam future tense. Kebaikan selalu present tense. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Artikel Terkait