ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Beranda Artikel Kodok Ngorek Kurban di Mata Sekular

Kurban di Mata Sekular

E-mail Cetak PDF

Sejak kecil saya menghindari keluar rumah pada hari raya Kurban. Terutama pada jam-jam ketika hewan-hewan disembelih. Ada rasa tidak tega melihat kambing dan sapi, yang sepekan menjelang perayaan telah berkemah dekat rumah, dipotong bergiliran. Lagipula, penyembelihan massal di ruang publik cukup menakutkan bagi saya. Ketika saya masih kecil dan peka, mendengar pengumuman giliran pemotongan saja sudah cukup menakutkan. Saya membayangkan diri sebagai domba-domba itu. Nama pemilik saya dipanggil, itu berarti giliran disembelih. Begitulah, saya selalu bersembunyi di rumah sampai tak terdengar lagi pemanggilan kambing atau sapi Tuan ini Tuan itu.
Tapi, kemudian ada beberapa hal mengubah persepsi saya.
Pertama, tentu saja saya menjadi dewasa dan bisa berpikir. Termasuk berpikir mengenai ketakutan saya.
Kedua, seorang teman bercerita bahwa ada anak urban yang tidak tahu bahwa dada goreng KFC nan gurih kriuk yang ia makan itu berasal dari makhluk bernama ayam. Ada anak yang tak pernah melihat ayam hidup sehingga, ketika si bocah pergi ke sebuah restoran pinggir kota dengan saung dan ayam-ayam berlarian di pelataran, takjublah bocah itu seperti melihat dinosaurus.

Modernitas memisahkan kita dari "kekerasan yang niscaya"

Tak dengan sendirinya anak kota bisa menarik hubungan antara daging yang telah dikemas di supermarket dengan hewan hidup. Tak dengan sendirinya anak kota mengerti bahwa daging berasal dari hewan yang disembelih.
Orang modern terpisah dari "kekerasan". Kekerasan yang niscaya bagi kehidupan. Ialah, bahwa kita harus hidup dengan membunuh yang lain--yaitu, makanan kita. Peradaban modern memisahkan ternak dari pekarangan sehingga manusia tidak hidup bersama calon makanannya. Peradaban modern mengatur spesialisasi kerja, sehingga ibu (atau siapapun yang bertugas masak) tak harus membunuh lalu membului ayam, menyisiki ikan di rumah. Semua telah dikerjakan pegawai pemotongan dan supermarket. Kita tinggal terima bersih. Dalam kemasan stereofom dan plastik.
Pengalaman dengan kekerasan memang bisa sangat traumatis. Saya ingat, saya tak mau makan ayam sampai usia sepuluh tahun. Kata Ibu, itu karena waktu kecil saya melihat ayam disembelih, dibersihkan, dan dikeluarkan jeroannya. Dan memang, salah satu mimpi buruk saya di usia SD adalah ini: melihat piring berisi ati ampela terbang-terbang mendekati saya. Sungguh. Itu mimpi buruk yang kerap muncul di sakit panas.
Saya adalah produk lama. Sebelum ada Carefour, Hero, Foodhall dan lain-lainnya. Saya masih bertumbuh dengan ibu membersihkan ikan dan saya tertarik sekaligus ngeri pada gelembung udara yang semula tersimpan rapi di tubuh ikan. Saya mencoba memainkannya sebentar sebelum Ibu memberikannya kepada kucing. Tentu saja setelah itu saya cepat-cepat cuci tangan demi menghilangkan amis dari jari-jemari.
Kini telah ada segala supermarket yang dengan sukses memisahkan manusia dan kekerasaan yang niscaya itu. Anak-anak tak harus mengalami trauma yang saya alami ketika melihat ayam disembelih.
Tapi, sesungguhnya, ada yang hilang juga dari "kebersihan" modern ini. Ada yang hilang. Yaitu pengertian bahwa kita hidup di atas kekerasan terhadap yang lain. Kekerasaan yang niscaya. Kita hidup di atas korban.  Ada yang harus mati demi kehidupan kita. Inilah pengalaman yang hilang oleh modernitas.
Pengalaman dengan kekerasan yang niscaya itu memang traumatis, seperti yang saya alami. Tapi menghilangkannya juga mencerabut kita dari pengertian mengenai dunia dan kehidupan (serta kematian).
Seharusnya, pengalaman dengan kekerasan yang niscaya membuat manusia lebih menghargai sakralnya hidup. Sakral, kata ini, berasal dari bahasa Latin. Artinya, kudus, suci. Sacrifice berarti kurban.
Bagi saya yang sekular hidup ini sakral karena ada penderitaan dan kematian yang di atasnya hidup kita berdiri. Jika itu bukan penderitaan ibunda yang melahirkan kita, maka itu adalah kematian segala hewan (dan mungkin segala hasil alam) yang kita makan. 
Dan karena itu hidup itu berharga. Bukan karena bernilai. Tapi karena ada harga yang dibayar pihak lain bagi kehidupan kita.
Kembali kepada hari raya Kurban. Tidakkah sesungguhnya kita semakin membutuhkannya di era modern ini. Era yang memisahkan manusia dari kekerasan yang niscaya. Yang memisahkan publik dari pengalaman melahirkan, menyusui, atau memelihara ternak.
Kurban mendamaikan kembali perpisahan itu, mempertemukan kembali kita pada wajah-wajah yang membayar bagi kehidupan kita.

Ayu Utami

J.5.12.8

 

 



Pemutakhiran ( Jumat, 12 Desember 2008 14:34 )  

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_4.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 5 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41460

Kutipan Buku

Moral agama adalah nafas kehidupan, sementara hukum agama hanyalah selang dan segala infus yang memaksa badan mati untuk tidak mati-mati. Manusia tidak bisa hidup dengan selang dan segala infus itu terus-menerus. Nafas yang alami harus ditumbuhkan dan dipelihara. Jika tidak, begitulah, orang mati mengubur orang mati. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Dari Rak Buku

Cindy Adams Penyambung Lidah BK

News image

...

Baca Komentar Ayu

Artikel Terkait