ayuutami.com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Beranda Artikel Kodok Ngorek
Kodok Ngorek

Kodok Ngorek adalah kolom Ayu Utami tiap Minggu di harian SINDO, berfokus pada hak sipil kita--yaitu, pelbagai hak dari hak beriman sampai hak berdandan termasuk hak sepatu. Kodok Ngorek versi www.ayuutami.com dipilih dari yang telah terbit. Kumpulan kali ini adalah mengenai pornografi, kesusilaan, dan agama--yang berhubungan dengan hak beriman dan berdandan tadi.  



Jin Plagiat

E-mail Cetak PDF

Siapa yang lebih plagiat: guru besar yang mencontek tulisan orang, atau jin yang "mencontek" wajah tuannya untuk meniduri murid tuan kiai?
Tidak percaya? Percaya tak percaya, kedua berita itu muncul di media massa pekan-pekan belakang. Sama-sama terjadi di dunia pendidikan. Yang pertama adalah kisah mengenai seorang santri perempuan dari sebuah pesantren di Tangerang. Setelah gadis itu mengeluh tak enak badan, orangtuanya mendapati anaknya hamil beberapa bulan. Berceritalah si gadis bahwa pemimpin sekolahnya pernah melamar. Bukan sang kiai yang hendak menikahinya. Tapi--hm, percaya tidak percaya--jin "milik" sang kiai tertarik pada santri  itu. Si kiai hanya melamarkan.
Si gadis menolak. Apakah dia takut, atau setidaknya heran, entahlah. Barangkali jin-jin demikian dianggap biasa saja. Siapa tahu. Hanya saja, tahu-tahu dia hamil.

Lebih lanjut...
 

Siapa penemu kata "rebonding"?

E-mail Cetak PDF

Ketika sekelompok ulama di Jawa Timur mengharamkan rebonding rambut, banyak pertanyaan yang muncul atau bisa muncul. Misalnya, apakah mereka juga mengharamkan keriting rambut? Kalau tidak, kenapa? Kok rambut lurus dianggap terlarang sedangkan rambut keriting tidak? Kan sama-sama buatan? Selain itu, siapa yang membikin-bikin kata itu sebab kita tidak bisa menemukannya di kamus?'

Pemutakhiran ( Senin, 15 Februari 2010 10:09 ) Lebih lanjut...
 

Semar Pernah Jadi Ratu

E-mail Cetak PDF

Saya melihat Semar pada Gus Dur. Itu bukan rahasia. Banyak orang melihat Semar pada Gus Dur.
Dan saya melihat itu lagi ketika menonton High Noon in Jakarta, dokumenter arahan sutradara Curtis Levy, yang diputar untuk mengenang beliau yang dikebumikan menjelang pergantian tahun.
Papan kayu Semar seperti penanda angin berlatar tugu Monas. Kodok hijau lucu penghias kebun Istana Merdeka. Sutradara mengawali film dengan citra-citra yang membangun humor.
Di dalam satu ruang istana terjadi kesibukan. Seorang tukang jahit mengukur badan atas sang presiden. Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelbagai kemeja resmi dipaskan. Batik, tenun, ikat. Kemudian, kamera menyorot ke bawah. Tampaklah presiden kita hanya mengenakan celana pendek. Kakinya kurus dibanding bobot tubuh atasnya. Ia tampak sesantai kanak-kanak. Ia tampak tak peduli pada segala formalitas yang biasanya menjadi aroma istana. Ia mengingatkan kita pada Semar.
Lalu, lihatlah, ia tenggelam dalam meja kerjanya di ruang istana yang besar. Seperti kodok yang berendam. Ia juga menerima tamu dari negeri tetangga sambil tetap mengenakan celana pendek dan sandal.
Setiap pagi, setelah waktu solat subuh, ia digandeng dua pengawal di kanan kiri. Diikuti selusin lagi pengawal. Tetap dengan celana pendek rakyat sehari-hari, ia  melakukan senam pagi sederhana, sesuai dengan kemampuan fisiknya yang tak lagi istimewa. Lantas, karena sang presiden mengenakan baju demikian, begitu pula para pengawalnya. Mereka semua memakai kaos rumahan dan celana pendek yang menampakkan kaki-kaki yang mulai tampak kurus dibanding perut yang mulai berisi. Mereka berjalan megal-megol. Tak bisa tidak, rombongan itu mengingatkan saya pada punakawan.

Lebih lanjut...
 

PONARI, 45 TAHUN SILAM...

E-mail Cetak PDF

 45 tahun silam, juga di musim hujan sekitar bulan Sura, terjadi peristiwa mirip Ponari, juga tak jauh dari Jombang.

Alkisah, pada bulan November 1953--yang adalah bulan Sura--seorang perempuan yang dijerat utang dan kemiskinan kehilangan cincin. Setelah mencari tanpa hasil, tiba-tiba ada cahaya menyergap rumah sampai memecahkan batu bata. Aneh bin ajaib, dalam batu bata yang pecah itu ditemukan si cincin yang hilang! Nah, sejak itu ia menjadi dukun. "Dukun tiban", istilahnya. Sebab ia tidak belajar mendukun, melainkan ketiban pulung kedukunan. Mirip Ponari, ia pun mengobati orang dengan cincinnya.

Menarik. Peristiwa ini terjadi di Mojokerto--tetangga Jombag daerah si Ponari, 45 tahun silam. Bulannya November atau bulan Sura (baca: Suro) tahun Jawa. Petir dan batu yang meniban Ponari terjadi di bulan Desember 2008. Tidak persis bulan Sura, tapi beberapa hari sebelum tibanya bulan keramat menurut klenik itu. Yang jelas, peristiwa dukun tiban 45 tahun silam dan Ponari sama-sama terjadi ketika bulan Sura jatuh di musim hujan. Mungkin agak sulit petir menyambar di tengah kemarau. Kalau sampai ada petir menyambar di musim kering, mungkin kesaktian yang ditibankan berlipat dahsyat.

Kisah ini dicatat antropolog ternama Clifford Geertz dalam buku yang sudah diterjemahkan: Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Pustaka Jaya: 1981).

Pemutakhiran ( Senin, 02 Maret 2009 18:12 ) Lebih lanjut...
 

Jati Diri

E-mail Cetak PDF

 

Kasus Depok
Pemerintah kota Depok itu lucu sekali! Sambil menunggu bilbor di persilangan jalan disewa, mereka memasang iklan sendiri. Iklan "jati diri".
Kembalikan jati diri bangsa, katanya. Dengan apa? Dengan makan memakai tangan kanan! Kembalikan jati diri bangsa dengan makan memakai tangan kanan.

Saya pingin ketawa, tapi saya harus menggagalkan tawa itu karena tiga alasan. Satu. Lelucon ini politically incorrect. Bagaimana dengan mereka yang tak punya tangan? Dua. Bagaimana dengan yang kidal? Orang kidal memang lahir dengan tangan kiri lebih trampil dari tangan kanan. Tiga. Bagaimana jika ternyata itu bukan lelucon?

Pemutakhiran ( Senin, 19 Januari 2009 16:31 ) Lebih lanjut...
 


Halaman 1 dari 3

Karya Terbaru Ayu Utami

bilangan_fu_3.jpg

Pencarian

Absensi

Sekarang ada 2 pengunjung sedang mengunjungi situs ini

Data Kunjungan

Content View Hits : 41451

Kutipan Buku

Perempuan dikuasai oleh monster ubur-ubur di dalam perutnya. Mereka senang melakukan percintaan yang membuang banyak tenaga hanya jika monster itu masih mengharapkan lebih. Jika sang monster memperkirakan bahwa lelaki Y tak akan menghasilkan lebih, ia akan memerintahkan si perempuan untuk menghemat energi. Ketika itulah mereka memilih posisi telentang. Demikianlah ekonomi perempuan. (Bilangan Fu)

TJT (Tanya & Jawab Terkerap)

Bagaimana Cara Menulis?

Bagaimana menuangkan ide?Ide adalah ibarat...

Baca Komentar Ayu

Dari Rak Buku

Cindy Adams Penyambung Lidah BK

News image

...

Baca Komentar Ayu

Artikel Terkait