Saya melihat Semar pada Gus Dur. Itu bukan rahasia. Banyak orang melihat Semar pada Gus Dur.
Dan saya melihat itu lagi ketika menonton High Noon in Jakarta, dokumenter arahan sutradara Curtis Levy, yang diputar untuk mengenang beliau yang dikebumikan menjelang pergantian tahun.
Papan kayu Semar seperti penanda angin berlatar tugu Monas. Kodok hijau lucu penghias kebun Istana Merdeka. Sutradara mengawali film dengan citra-citra yang membangun humor.
Di dalam satu ruang istana terjadi kesibukan. Seorang tukang jahit mengukur badan atas sang presiden. Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelbagai kemeja resmi dipaskan. Batik, tenun, ikat. Kemudian, kamera menyorot ke bawah. Tampaklah presiden kita hanya mengenakan celana pendek. Kakinya kurus dibanding bobot tubuh atasnya. Ia tampak sesantai kanak-kanak. Ia tampak tak peduli pada segala formalitas yang biasanya menjadi aroma istana. Ia mengingatkan kita pada Semar.
Lalu, lihatlah, ia tenggelam dalam meja kerjanya di ruang istana yang besar. Seperti kodok yang berendam. Ia juga menerima tamu dari negeri tetangga sambil tetap mengenakan celana pendek dan sandal.
Setiap pagi, setelah waktu solat subuh, ia digandeng dua pengawal di kanan kiri. Diikuti selusin lagi pengawal. Tetap dengan celana pendek rakyat sehari-hari, ia melakukan senam pagi sederhana, sesuai dengan kemampuan fisiknya yang tak lagi istimewa. Lantas, karena sang presiden mengenakan baju demikian, begitu pula para pengawalnya. Mereka semua memakai kaos rumahan dan celana pendek yang menampakkan kaki-kaki yang mulai tampak kurus dibanding perut yang mulai berisi. Mereka berjalan megal-megol. Tak bisa tidak, rombongan itu mengingatkan saya pada punakawan.