Apa Arti Kebebasan dan Feminisme dalam Trilogi Parasit Lajang

By | April 8, 2026

Apa Arti Kebebasan dan Feminisme dalam Trilogi Parasit Lajang?

 

Pertanyaan ini datang dari beberapa mahasiswa skripsi. Seharusnya, mereka sendirilah yang menganalisa dan menarik jawabannya dari rangkaian buku itu. Jawaban saya ini janganlah dianggap satu-satunya penjelasan.

Ada yang harus diingat saat berhadapan dengan sebuah narasi. Cerita bukanlah hukum. Kisah bukan rumusan. Sebuah kisah tak pernah berpretensi untuk menyarikan suatu ajaran jika bisa disampaikan dengan dalil atau pedoman.

Kisah adalah pengalaman, yang tak memiliki jalan keluar lain. (Saman, hal. 166; edisi 2013). Maka, Trilogi Parasit Lajang juga tidak berniat memberi formula tertutup mengenai kebebasan atau feminisme yang ditanyakan.

Pertanyaan tentang kebebasan adalah pertanyaan universal maha besar manusia. Kebebasan adalah tema utama Kitab Suci. Isunya berbeda-beda sesuai konteks partikular. Bagi Enrico (tokoh utama dalam Cerita Cinta Enrico), kebebasan itu berarti bebas dari ibu dan istri. Ia mau pergi dari ibunya dan tidak mau beristri.

Bagi A (tokoh utama dalam Si Parasit Lajang dan Pengakuan Eks Parasit Lajang), kebebasan yang diinginkan bukan hanya tentang dirinya: Bukan hanya dirinya, tapi semua perempuan. Ia ingin perempuan bebas dari ketergantungan terhadap lelaki. (hal. 187) Ia ingin agar perempuan bebas dari rasa takut:  Ia akan keluar dari Benteng Perkawinan dan membikin terang kepada orang-orang bahwa di luar sana tak ada yang perlu ditakuti. (hal. 184)

Poin penting di sini: kebebasan mulai terfahami karena adanya belenggu. Enrico dan A mencoba memberontak dari belenggu itu.

Pemberontakah Enrico sangat individualistis. Pemberontakan A melampaui kepentingan pribadinya. Ini mungkin sekali berhubungan dengan kenyataan struktur masyarakat.

Patriarki lebih membelenggu perempuan daripada lelaki, maka masuk akal bahwa A melihat ketidakbebasannya sebagai masalah jender, bukan masalah pribadi. Di titik ini ia beranjak menuju feminisme.

Feminisme macam apakah dalam Trilogi Parasit Lajang? Agaknya bagi A, feminisme tidak bisa diputus dari humanisme: Perihal kesetaraan lelaki-perempuan… hubungan itu telah meningkat menjadi hubungan antar manusia.

Bukan lagi hanya lelaki-perempuan, melainkan antara dua subjek yang setara. Dua manusia. …sebuah hubungan yang memanusiakan. Dalam sebuah hubungan yang memanusiakan, orang tidak pergi karena ada yang lebih menggiurkan atau menjanjikan. Orang mencoba untuk setia. (hal. 200)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *