Apa Sebetulnya yang Saya Katakan kepada The Jakarta Globe

By | April 8, 2026

Apa Sebetulnya yang Saya Katakan kepada The Jakarta Globe

The Jakarta Globe telah menaikkan artikel yang sangat menyesatkan mengenai pendapat saya tentang kerentanan perempuan dan kasus SS.

Wawancara sebenarnya sangat panjang, tetapi yang dikutip pendek dan salah. Di bawah inilah yang saya ungkapkan kepada wartawan harian tersebut, serta analisa kenapa kesesatan bisa terjadi.

Mengenai kerentanan perempuan secara umum

“Kerentanan perempuan” adalah tema yang diajukan si wartawan ketika minta waktu wawancara. Pendapat saya tentang itu: Secara biologis tubuh perempuan manusia memang lebih rentan dibanding tubuh hewan betina. i) Kebanyakan mamalia jantan tidak memperkosa betinanya (kecuali dengan campur tangan manusia). Pemerkosaan justru terjadi di dunia manusia. ii) Persalinan bagi manusia jauh lebih berat daripada dari binatang menyusui lainnya. Jadi, memang ada kerentanan pada perempuan secara biologis.

Kesalahan pada artikel Jakarta Globe:  “Kerentanan” tidak dibedakan dari kelemahan. Rentan dianggap sama dengan lemah.

Itu justru pandangan “patriarkal” yang sedang saya kritik. Selama ini, kerentanan biologis wanita dilihat sebagai kelemahan―berdasarkan ukuran-ukuran lelaki.

Justru kita harus mengubah alat ukur itu dan merenungkan kembali apa makna “kerentanan”. Kita akan melihat bahwa kerentanan TIDAK SAMA dengan kelemahan.

Apa yang hilang dalam artikel Jakarta Globe: Saya mengajak si wartawan untuk merenungkan arti kerentanan itu. Misalnya, bahwa kerentanan itu terjadi dan diperlukan demi kemanusiaan kita: manusia yang otaknya bisa punya akal budi. Saya mengajukan suatu teori yang pernah dikatakan orang: Bayi manusia lahir “terlalu dini” dibanding hewan lain.

Kenapa? Karena dengan begitu bayi itu bisa mengembangkan volume dan kapasitas otaknya di luar kandungan. Jika kepalanya sudah stabil dan matang di dalam kandungan, niscaya dengan ukuran sebesar itu ia tak bisa melalui jalur kelahiran.

Untuk itu diperlukan induk yang “melahirkan sebelum waktunya” dan “merawat bayi lebih lama daripada hewan lain”. Demi kapasitas ini, sang induk menjadi rentan.

Renungan ini sama sekali tidak ditulis oleh Jakarta Globe dan koran ini mengambil kesimpulan simplistis bahwa kerentanan = alamiah = “normal”.  Rumusan yang benar adalah alamiah TIDAK SAMA dengan “normal”.

Tentang kerentanan perempuan urban di Indonesia

Saya katakan bahwa patriarki justru kerap menambah beban di atas kerentanan biologis perempuan, sehingga secara sosio-kultural perempuan jadi semakin rentan lagi. Ini terjadi di mana-mana. Bukan Cuma di Indonesia saja.

Kerentanan perempuan dan ketidakadilan jender terjadi di setiap masyarakat, apapun latar belakang budaya, sosio-ekonomi, agama, geografi. Tak ada satu masyarakat pun yang bersih dari ketidakadilan jender. Apa yang terjadi di perkotaan Indonesia juga terjadi di pedesaan dan di negara lain.

Kesalahan pada artikel The Jakarta Globe: Secara fatal dan tak bertanggung jawab, The Jakarta Globe menggunakan kata “defend” (membela, membenarkan): She also defends the prevalence of sex crimes in Indonesia as no different from any other country or culture.

The Jakarta Globe terjebak dalam asumsi yang sesat: bahwa sesuatu yang terjadi di seluruh dunia berarti normal. Dengan pikirannya sendiri, si penulis mengira saya sedang membela keburukan bangsa ini karena keburukan sejenis juga dilakukan bangsa lain. Sekali lagi, si penulis terjebak dalam asumsi bahwa banyak = normal. Sesat! Sungguh Sesat!

Dengan pola pikir sesat itu, The Jakarta Gobe tidak menangkap implikasi pernyataan saya bahwa: justru karena  ketidakadilan ini terjadi di mana saja, maka ini masalah bersama dunia. Ini bukan soal urban atau Indonesia. Ini soal ketidakadilan.

Tentang kasus SS

Sikap saya pada kasus SS jelas. SS salah, dan itu saya tegaskan kepada si wartawan. Bahkan, jikapun pemerkosaan dalam pengertian tradisional-maskulin (dengan kekerasan fisik) sulit dibuktikan, ia tetap salah melakukan perbuatan yang tidak manusiawi terhadap korban.

Saya katakan, penyalahgunaan kekuasaan antara atasan-bawahan memang tidak ada, tetapi pelaku sangat mungkin memanfaatkan kharismanya secara tidak bertanggung jawab. Lihat juga artikel saya sebelumnya “Kenapa Kita Tidak Bisa Lagi Bilang Suka Sama-Suka”.

Saya memang mengatakan bahwa toh kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam stereotipe tentang perempuan korban. Dalam hal ini mungkin saya berbeda dari para aktivis yang lain. Saya  cenderung tidak memakai penjelasan “relasi kuasa”; saya memakai penjelasan lain.

Perbedaan pendapat dan cara pandang ini bukan penyangkalan bahwa ada tindak pidana. Dengan cara pandang yang berbeda, saya tetap melihat ada kasus pidana.

Kesalahan pada artikel The Jakarta Globe: Sekali lagi dengan fatal dan sangat tidak bertanggung jawab, The Jakarta Globe menggunakan kata “deny” (menyangkal): She denies that Sitok used this power balance to abuse the victim, saying that would imply that she was socially inferior to him.

Perhatikan juga, kedua bagian kalimat itu tidak bisa dijelaskan hubungannya secara logis.  Hanya karena saya punya cara pandang yang berbeda, penulis mengasumsikan saya punya kesimpulan yang berbeda.

Ingat bahwa proses yang berbeda bisa mencapai kesimpulan yang sama. Cara pandang yang berbeda bisa mencapai kesimpulan yang sama. (Bandingkkan dengan hukum asosiatif, komutatif, atau distributif dalam aljabar.)

Ada beberapa catatan lagi tentang artikel itu. Tapi, untuk kasus di atas, tampaknya wartawan/penulis artikel melakukan kesesatan pikir dalam hal persamaan.

Ia atau mereka membikin persamaan yang gegabah antara alamiah dan benar, banyak dan normal, dsb.), dan di atas persamaan yang salah itu mereka membangun kalimat-kalimat menyesatkan.

24 Januari 2014

Catatan: Tulisan ini saya kerjakan karena penyelesaian protes saya terhadap The Jakarta Globe mungkin memakan waktu, sementara saya harus mengurus orangtua yang sakit dan harus ke luar negeri sampai 2 Februari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *