Semar Pernah Jadi Ratu
Saya melihat Semar pada Gus Dur. Itu bukan rahasia. Banyak orang melihat Semar pada Gus Dur.
Dan saya melihat itu lagi ketika menonton High Noon in Jakarta, dokumenter arahan sutradara Curtis Levy, yang diputar untuk mengenang beliau yang dikebumikan menjelang pergantian tahun.
Papan kayu Semar seperti penanda angin berlatar tugu Monas.
Kodok hijau lucu penghias kebun Istana Merdeka. Sutradara mengawali film dengan citra-citra yang membangun humor.
Di dalam satu ruang istana terjadi kesibukan. Seorang tukang jahit mengukur badan atas sang presiden. Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Pelbagai kemeja resmi dipaskan. Batik, tenun, ikat. Kemudian, kamera menyorot ke bawah.
Tampaklah presiden kita hanya mengenakan celana pendek. Kakinya kurus dibanding bobot tubuh atasnya. Ia tampak sesantai kanak-kanak. Ia tampak tak peduli pada segala formalitas yang biasanya menjadi aroma istana. Ia mengingatkan kita pada Semar.
Lalu, lihatlah, ia tenggelam dalam meja kerjanya di ruang istana yang besar. Seperti kodok yang berendam. Ia juga menerima tamu dari negeri tetangga sambil tetap mengenakan celana pendek dan sandal.
Setiap pagi, setelah waktu solat subuh, ia digandeng dua pengawal di kanan kiri.
Diikuti selusin lagi pengawal. Tetap dengan celana pendek rakyat sehari-hari, ia melakukan senam pagi sederhana, sesuai dengan kemampuan fisiknya yang tak lagi istimewa. Lantas, karena sang presiden mengenakan baju demikian, begitu pula para pengawalnya.
Mereka semua memakai kaos rumahan dan celana pendek yang menampakkan kaki-kaki yang mulai tampak kurus dibanding perut yang mulai berisi. Mereka berjalan megal-megol. Tak bisa tidak, rombongan itu mengingatkan saya pada punakawan.
Punakawan adalah abdi keraton dalam dunia wayang. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Petruk, Gareng, Bagong, serta yang terpenting: sang ayah, Semar. Mereka tidak anggun seperti para satria: Yudistira, Arjuna, atau lainnya.
Mereka berkaki pendek, jika bukan kecil, dan berperut buncit, jika bukan layu. Mereka tidak berhidung ramping, melainkan berhidung bulat. Mereka tidak bermata lentik.
Sebagian dari mereka malah juling. Mereka tampak kocak dan tidak serius. Tapi mereka adalah lambang kebijaksanaan yang tidak berbelit-belit. Mereka adalah kebijaksanaan rakyat jelata, yang tak dibungkus oleh terlalu banyak norma dan tatakrama istana.
Yang menarik dalam wayang adalah ini. Punakawan adalah karakter asli nusantara. Para satria pewayangan adalah tokoh-tokoh Mahabharata dan Ramayana, kisah yang aslinya diimpor dari India.
Arjuna yang tampan, Yudhistira yang bijak, Bisma yang selibat, Bima yang gagah. Mereka adalah para bangsawan yang datang dari negeri asing. Tapi ke dalam cerita wayang, nenek moyang kita menyusupkan karakter asli kita yang tak ada dalam epik-epik besar itu: para punakawan. Para abdi yang mengamong para satria tanpa kehilangan jati dirinya.
Cerita wayang adalah penusantaraan kitab-kitab dari tradisi Hindu.
Gus Dur adalah epitom penusantaraan Islam. Seperti Semar, ia mengamong nilai-nilai agama itu ke dalam lokalitas. Ia menjadi Islam, tanpa harus menjadi Arab.
Tapi, sebagaimana Semar, ia juga tokoh yang ambigu. Semar kerap digambarkan sebagai bukan lelaki bukan perempuan, bukan ini bukan itu. Penggambaran ini sesungguhnya adalah sebuah konsep tentang selalu adanya sesuatu yang lain dari yang kita fahami. Selalu ada “sang liyan”, yaitu yang lain dari yang kita kenal.
Demikian pula Gus Dur. Ia mengenal para liyan dan memberikan empatinya pada yang tertindas. Kepada yang paling terasing dalam rezim Suharto dan tak punya nilai tawar politik pun, para pelarian politik 65, ia mengusahakan naturalisasi. Ia mengusulkan pencabutan larangan Marxisme/Leninisme–meskipun tak disambut oleh DPR/MPR. Kepada keturunan Tionghoa, ia menjadikan Imlek sebagai hari libur opsional dan mengusahakan revisi pelbagai peraturan.
Dan Nahdlatul Ulama di bawah pimpinannya biasa menyumbangkan organisasi pemudanya untuk ikut mengamankan upacara agama lain–hal yang rasanya tak dilakukan organisasi Islam dan agama lainnya.
Tapi Gus Dur bukan mitos.
Setidaknya, sampai akhir tahun 2009, ia adalah manusia nyata. Seperti punakawan, ia juga melakukan hal-hal yang kurang masuk akal, jika bukan kurang perhitungan. Ia bukan cuma terbuka pada sang liyan, tetapi ia adalah liyan itu sendiri, yang menuntut kita untuk berpikir, mempertanyakan kembali apa-apa yang kita percaya.
Satu setengah tahun pemerintahannya dulu ibarat lakon. Bukan Petruk Dadi Ratu, tetapi Semar Dadi Ratu. Suatu periode pendek yang kocak dan ganjil. Terjadi banyak kekacauan di sana-sini, tetapi ada satu hal besar yang tidak pernah dikhianati: Indonesia yang plural. Benarlah kata Presiden SBY dalam layatnya: bahwa Gus Dur adalah Bapak Pluralisme. Dengan demikian ia Bapak Indonesia, sebab Indonesia tak berarti tanpa merawat keragamannya.
