Apakah “Trilogi Parasit Lajang” Memang Kisah Nyata?
Jawabnya, ya, ketiga buku itu saya golongkan sebagai kisah nyata. Pertanyaan berikutnya: seberapa nyata atau akurat? Seberapa tepatkah sejarah jika ingatan bisa salah; itu adalah pertanyaan yang bisa diajukan tak hanya pada novel biografis, tapi pada segala teks historis termasuk Kitab Suci.
Dengan segala keterbatasannya, Trilogi Kisah Nyata ini berbeda dari novel saya yang lain (misalnya Saman-Larung atau Seri Bilangan Fu) karena tokoh-tokohnya tidak fiktif.
Cerita yang ada di sana adalah otentik berdasarkan pengalaman si tokoh utama. Di sini muncul pertanyaan penting untuk pemula: apakah otentik itu?
Yang otentik adalah sebagaimana dialami dan diingat secara jujur oleh sang tokoh. Maka, yang otentik tidak berarti sama dengan yang faktual-obyektif. Contohnya, dalam Cerita Cinta Enrico, bocah Enrico mengingat syair lagu pop dari grup Middle of the Road, “where’s your Mama gone, little baby gone”.
Padahal lirik yang mungkin lebih benar adalah “where’s your Mama gone, little Baby Don”. Sebagai penulis saya tidak menyesuaikan lagu berdasarkan versi penggubahnya. Dalam novel ini yang otentik adalah pengalaman si tokoh.
Tapi memang ada catatan besar. Saya tentu saja membuat penafsiran di sana sini, menambahkan lapisan pemahaman dan pelbagai metafor di atas kerangka cerita. Barangkali untuk membuat cerita lebih hidup.
Juga karena sebagai penulis saya mungkin melihat makna dengan cara yang berbeda (jika bukan lebih berlapis) daripada si tokoh. Metafor yang mengasosiasikan generasi muda Orde Baru dan ayam broiler dalam Cerita Cinta Enrico, misalnya, tidak berasal dari tokoh.
Saya “melihat” metafor itu setelah ikut mengalami kisah hidup Enrico, yang memang beternak ayam. Ini adalah bagian inheren proses kreatif penulisan. Dalam Cerita Cinta Enrico pembaca memang sulit untuk menguraikan mana yang merupakan pikiran Enrico dan mana yang pikiran penulis.
Risiko “pencampuran pikiran” itu saya ambil atas izin Enrico alias Erik Prasetya. Sejauh ini dia tidak punya keberatan. Penulis terkadang, bisa jadi, justru mengartikulasikan apa yang si tokoh tak bisa katakan meski samar-samar ia rasakan.
Si Parasit Lajang dan Pengakuan Eks Parasit Lajang memang lebih tidak problematis sebab keduanya adalah memoar atau otobiografi pribadi. Alasan penyingkatan nama tokoh dan kenapa penanda waktu tidak dirinci telah saya tuliskan dalam catatan akhir buku Pengakuan. Yang ingin tahu atau sedang membuat tugas kuliah tentang trilogi ini, sila lihat juga catatan akhir di masing-masing buku.
Dalam trilogi ini, saya tidak menambahkan peristiwa yang tak pernah terjadi. Yang mungkin saya tambahkan adalah lapisan tafsir dan makna atas kejadian. Ingat pula bahwa saya menyusun cerita tidak selalu secara kronologis.
